Menjelang Setahun Pasca Bencana, Begini Potret Persawahan di Pidie Jaya

Persawahan di Pidie Jaya masih tergenang endapan lumpur yang sudah mengeras.

NALURINEWS.COM
, Meureudu - Menjelang satu tahun bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, kondisi sejumlah areal persawahan masyarakat hingga kini masih menyisakan persoalan serius.
​
Hamparan sawah yang sebelumnya menjadi sumber utama penghidupan warga di beberapa lokasi masih tertutup endapan lumpur. Bahkan, sebagian lahan pertanian—seperti yang terlihat di Desa Beuringen—mulai ditumbuhi semak belukar karena tak kunjung dapat digarap.

​Bagi warga setempat, persawahan bukan sekadar lahan bercocok tanam, melainkan tumpuan utama dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Nyaris setahun berlalu, para petani masih dibayangi ketidakpastian terkait masa depan mata pencaharian mereka.

​Salah seorang petani terdampak, Armiya, menyampaikan kecemasannya terkait ketidakpastian tersebut.

​"Yang kami pikirkan sekarang bagaimana mata pencaharian kami ke depan. Sawah ini sumber penghasilan kami. Kalau belum bisa digarap, kami harus mencari penghasilan dari mana?" ujar pria lima anak tersebut.

​Kondisi ini membuat masyarakat berharap proses pemulihan sektor pertanian tidak sekadar membersihkan material sisa bencana, tetapi juga menyentuh perbaikan infrastruktur penunjang, seperti pemulihan sistem pengairan dan irigasi yang rusak.

​Selain pendangkalan akibat endapan lumpur, kerusakan saluran irigasi dan terbatasnya akses menuju lokasi persawahan menjadi kendala utama yang menghambat petani untuk kembali memulai masa tanam.

​Dampak bencana tidak berhenti saat air surut dan masa tanggap darurat berakhir. Kerusakan lahan yang berkepanjangan secara langsung memutus arus pendapatan keluarga petani dalam jangka panjang.

​Menjelang satu tahun pascabencana, masyarakat menaruh harapan besar pada langkah cepat pemerintah. Penanganan mendesak yang dibutuhkan meliputi normalisasi lahan dan saluran irigasi, penyediaan sarana produksi pertanian (saprodi), hingga skema dukungan ekonomi bagi petani terdampak.

​Bagi warga Pidie Jaya, peringatan satu tahun pascabencana bukan sekadar mengenang peristiwa lalu, melainkan penantian kepastian agar mereka dapat kembali turun ke sawah dan memulihkan roda perekonomian keluarga seperti sediakala.[]

Posting Komentar untuk "Menjelang Setahun Pasca Bencana, Begini Potret Persawahan di Pidie Jaya"