Dua Bulan Pascabanjir, Pendangkalan Kuala Meureudu Lumpuhkan Ekonomi Nelayan

Boat nelayan terdampar di Kuala Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.

NALURINEWS.COM
, Meureudu - Lebih dari dua bulan setelah banjir bandang menerjang Kabupaten Pidie Jaya pada 26 November lalu, duka mendalam masih dirasakan para nelayan di Gampong Teupin Pukat, Kecamatan Meurah Dua. Pendangkalan parah di muara (kuala) sungai Meureudu mengakibatkan aktivitas melaut lumpuh total.

Panglima Laot setempat, M. Nasir, mengungkapkan bahwa kondisi ini menjadi hambatan utama bagi warga pesisir dalam mencari nafkah. Hingga saat ini, normalisasi sungai yang dijanjikan pemerintah belum juga terealisasi.

​"Kami mewakili nelayan sangat mengharapkan langkah nyata dari pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pusat untuk segera menormalisasi sungai Meureudu. Sudah lebih dari dua bulan nelayan tidak bisa melaut dengan normal," ujar M. Nasir kepada Nalurinews, Sabtu, 31 Januari 2026.

Aktivitas Melaut Tergantung Pasang Surut

​Kondisi kuala yang dangkal membuat mobilitas kapal sangat terbatas. Saat air pasang, hanya perahu kecil berkapasitas di bawah 2 GT yang bisa melintas. Sementara itu, kapal besar di atas 10 GT sama sekali tidak bisa keluar dari muara.

Dampaknya, ekonomi masyarakat nelayan kini berada di titik nadir. Tidak adanya pemasukan selama dua bulan memaksa banyak nelayan terjerat utang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Meski data kerusakan dan korban telah diserahkan kepada BPBD serta Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), realisasi bantuan masih nihil. M. Nasir mengingatkan pemerintah agar kejadian pasca-gempa Pidie Jaya beberapa tahun lalu—di mana bantuan tidak sampai ke tangan nelayan—tidak terulang kembali.[Riski]

Posting Komentar untuk "Dua Bulan Pascabanjir, Pendangkalan Kuala Meureudu Lumpuhkan Ekonomi Nelayan"