![]() |
| Warga menyiram jalan untuk menghindari kepungan debu belas marerual banjir. |
NALURINEWS.COM, Meureudu - Lima bulan pasca-bencana yang melanda Kabupaten Pidie Jaya pada 2025 silam, dampaknya masih menyisakan persoalan bagi masyarakat. Selain lingkungan yang belum sepenuhnya pulih dari sisa lumpur, kini warga harus menghadapi polusi debu tebal yang menyelimuti permukiman dan ruas jalan utama.
Debu beterbangan hampir sepanjang hari, terutama saat kendaraan melintas di jalan-jalan yang belum sepenuhnya dibersihkan. Kondisi ini diperparah oleh cuaca panas dan minimnya penyiraman jalan, sehingga partikel debu dengan mudah masuk ke dalam rumah warga.
Sejumlah warga di wilayah Meureudu mengaku resah dengan kondisi tersebut. Selain mengganggu kenyamanan, polusi udara ini mulai berdampak pada kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia yang rentan terhadap gangguan pernapasan, seperti batuk dan sesak napas.
"Setiap hari kami harus membersihkan rumah berkali-kali karena debu cepat sekali masuk. Anak-anak juga sudah mulai batuk," ujar Ishak, warga Beurawang, saat diwawancara, Sabtu 25 April 2026.
Tak hanya berdampak pada kesehatan, aktivitas ekonomi warga pun ikut terganggu. Para pedagang mengeluhkan barang dagangan mereka yang cepat kotor, sementara para pengendara harus ekstra waspada karena debu tebal kerap mengganggu jarak pandang.
Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya untuk segera mengambil langkah konkret. Warga meminta adanya penyiraman rutin, khususnya di titik-titik rawan seperti di Meunasah Macang, Pante Beureune Kecamatan Meurah Dua. Kemudian Gampong Beurawang dan Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu.
Hingga saat ini, warga Pidie Jaya hanya bisa berharap adanya penanganan cepat dari instansi terkait agar kondisi lingkungan segera membaik dan kehidupan masyarakat dapat kembali berjalan normal.[Riski]

Posting Komentar untuk "Debu Tebal Selimuti Pidie Jaya Pasca-Bencana, Warga Resah dan Aktivitas Terganggu"