Benteng Terakhir Satwa Kunci: Pidie Inisiasi Rencana Aksi Koridor Hidupan Liar 100 Ribu Hektare

DLHK Kabupaten Pidie.

NELURINEWS.COM
, Sigli - Masa depan pelestarian satwa kunci di Aceh memasuki babak baru. Pemerintah Kabupaten Pidie secara resmi memulai langkah strategis dalam menjaga ekosistem "Bentang Alam Ulu Masen" melalui kegiatan Pra Konsultasi Publik Rencana Aksi Pengelolaan Koridor Hidupan Liar (KHL) Pidie–Pidie Jaya, Selasa, 5 Mei 2026.

​Acara yang digelar di Aula Safira Hotel Sigli ini dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pidie, Drs. Samsul Azhar, didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pidie, Firman Maulana.

​Ruang Aman bagi Harimau dan Gajah Sumatra
​Koridor ini bukan sekadar kawasan hijau biasa. Dengan luas mencapai 101.551 hektare, wilayah ini merupakan "jalan raya alami" dan habitat utama bagi satwa dilindungi yang terancam punah, seperti Harimau Sumatra dan Gajah Sumatra.

​Berdasarkan Keputusan Gubernur Aceh Nomor 500.7/877/2025, pembagian wilayah koridor ini mencakup Kabupaten Pidie: 80.314 hektare (Mencakup 11 Kecamatan dan 60 Desa) dan Kabupaten Pidie Jaya 21.237 hektare.

​Dalam sambutannya, Sekda Samsul Azhar menegaskan bahwa pengelolaan kawasan seluas ini mustahil dilakukan sendirian. Ia menekankan pentingnya integrasi program yang terpadu antar pemangku kepentingan.

​"Diperlukan dokumen Rencana Aksi Pengelolaan yang menjadi acuan bersama di lapangan, baik untuk jangka menengah maupun panjang. Forum ini adalah kunci untuk menghimpun masukan agar rencana tersebut tidak hanya hebat di atas kertas, tapi efektif memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat," ujar Sekda.

​Keunikan dari rencana aksi ini adalah pelibatan aktif unsur pimpinan lokal. Kawasan koridor di Pidie yang melintasi 11 kecamatan—mulai dari Tangse dengan 22 desa hingga kawasan Geumpang dan Mane—mengharuskan peran serta perangkat adat dan desa.
​Hadir dalam kegiatan tersebut para tokoh kunci konservasi, Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, Kabid Perlindungan & Konservasi SDA Ekosistem DLHK Aceh, M Daud. Para Camat, Imum Mukim, serta keuchik (kepala desa) dari wilayah terdampak seperti Geumpang, Mutiara Timur, Keumala, Mane, Glumpang Tiga, Tiro, Tangse, dan Sakti.

​Kehadiran para imum nukim dan keuchik menandakan bahwa pemerintah ingin memastikan suara masyarakat di sekitar hutan didengar, mengingat merekalah garda terdepan yang hidup berdampingan langsung dengan hidupan liar tersebut.

​Penyelamatan ekosistem Ulu Masen melalui koridor Pidie–Pidie Jaya adalah investasi masa depan untuk mencegah konflik satwa dengan manusia sekaligus menjaga warisan alam Aceh bagi generasi mendatang.[]

Posting Komentar untuk "Benteng Terakhir Satwa Kunci: Pidie Inisiasi Rencana Aksi Koridor Hidupan Liar 100 Ribu Hektare"