![]() |
| Kondisi area persawahan di Meureueu, Pidie Jaya sudah ditumbuhi tanaman liar. |
NALURINEWS.COM, Meureudu - Meski telah melewati lima kali perpanjangan status tanggap darurat dan dua kali masa transisi pascabencana banjir bandang, sebagian lahan persawahan di Kabupaten Pidie Jaya hingga kini masih belum dapat difungsikan. Sawah yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan masyarakat kini dipenuhi semak dan hutan belukar akibat belum tersentuh pemulihan secara menyeluruh.
Bencana banjir bandang yang melanda Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua pada 26 November 2025 tidak hanya menghancurkan permukiman, tetapi juga menimbun ribuan hektare lahan pertanian dengan lumpur. Kondisi tersebut menyebabkan banyak petani kehilangan mata pencaharian.
Hingga pertengahan tahun 2026, sejumlah areal persawahan di berbagai desa masih terbengkalai. Selain tertutup lumpur yang mengeras, sebagian lahan kini ditumbuhi ilalang dan semak belukar karena tidak lagi diolah.
Warga mengaku kesulitan mengembalikan fungsi lahan tanpa dukungan alat berat dan normalisasi saluran irigasi. Biaya yang besar membuat sebagian petani memilih membiarkan sawah mereka kosong.
"Sawah kami masih tertimbun lumpur dan malah sekarang sudah tumbuh pohon di sawah kami. Sekarang saya tidak ke sawah lagi. Hari-hari kami sekarang pergi ke laut, kadang ada rezeki kadang kosong," ujar Armiya, warga Beuringen yang juga bapak lima anak tersebut.
Masyarakat berharap pemerintah pusat maupun daerah segera mempercepat program rehabilitasi sektor pertanian, termasuk pembersihan lahan, perbaikan irigasi, serta pemberian bantuan kepada petani agar lahan produktif dapat kembali dimanfaatkan.
Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan produksi pangan di Kabupaten Pidie Jaya akan terus menurun, sementara para petani semakin kehilangan sumber pendapatan yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga.[Riski]

Posting Komentar untuk "Lima Kali Tanggap Darurat, Dua Kali Masa Transisi, Sawah di Pidie Jaya Kini Berubah Jadi Hutan Belukar"