NELURINEWS.COM, Meureudu - Tingginya curah hujan yang mengguyur Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, membuat para petani di Gampong Babah Krueng, Kecamatan Bandar Dua, dilanda kecemasan mendalam. Pasalnya, bayang-bayang banjir susulan terus menghantui areal persawahan yang kini tengah bersiap memasuki masa panen.
Kondisi persawahan di Gampong Babah Krueng, Kecamatan Bandar Dua usai diterjang banjir pada Minggu (25/10/2026).
Kekhawatiran ini beralasan. Mengingat pengalaman pahit pada akhir tahun 2025 lalu, banjir sempat merendam dan memicu gagal panen massal. Petani tentu tidak ingin jerih payah selama berbulan-bulan merawat padi berujung pada kerugian besar.
Total luas areal persawahan di Gampong Babah Krueng sendiri diperkirakan mencapai 31 hektare.
Keuchik Babah Krueng, Ismail, menjelaskan bahwa banjir bermula dari hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut pada Minggu (25/10/2026). Akibatnya, tiga aliran sungai utama yang mengelilingi desa—yakni Sungai Jelanga, Sungai Ulim, dan Sungai Uteun Bayu—meluap secara bersamaan.
“Kondisi ketiga sungai tersebut kini semakin dangkal akibat penumpukan sedimen. Ketika hujan deras turun, air sungai dengan mudah meluap dan mengancam permukiman serta lahan pertanian warga,” ujar Ismail.
Meski luapan air sempat merendam belasan rumah warga yang berada di dekat aliran sungai, warga memilih bertahan di rumah masing-masing tanpa harus mengungsi.
Harapkan Solusi Jangka Panjang
Sebagai langkah tanggap darurat, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya telah mengerahkan alat berat ke lokasi sejak Senin (25/10/2026). Alat berat tersebut difokuskan untuk membersihkan saluran pembuang, saluran irigasi yang tertimbun lumpur, serta membersihkan aliran air agar tidak menerjang rumah warga.
Kendati mengapresiasi pengerahan alat berat tersebut, Ismail mewakili warganya berharap penanganan tidak berhenti pada pembersihan saluran semata. Warga mendesak pemerintah daerah untuk lebih fokus dan serius menangani persoalan di Kecamatan Bandar Dua melalui langkah jangka panjang.
“Jangan sampai pada tahun 2026 ini musibah banjir kembali terulang. Pemerintah harus mengupayakan langkah pencegahan sejak sekarang, seperti normalisasi sungai dan pembangunan tanggul, agar tanaman padi kami aman dari kepungan banjir,” tegas Ismail.
Bagi para petani Babah Krueng, keselamatan padi yang sebentar lagi dipanen adalah harga mati. Mereka berharap pemerintah bergerak cepat dan proaktif sehingga mimpi buruk gagal panen akibat banjir tidak kembali terulang.[Riski]
Posting Komentar untuk "Bayang-Bayang Gagal Panen: Petani Pidie Jaya Cemas Banjir Susulan Terjang 31 Hektare Sawah"