
Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi bermasama warga saat meninjau tebing sungai yang jebol.
NALURINEWS COM, Meureudu - Bencana hidrometeorologi yang menerjang Kabupaten Pidie Jaya tidak hanya merusak rumah warga dan infrastruktur, tetapi juga mengancam eksistensi peradaban Aceh. Sebanyak 81 situs cagar budaya kini berada di ambang kerusakan serius akibat terjangan banjir lumpur dan material kayu.
Menghadapi situasi darurat ini, Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi bergerak cepat. Ia langsung mendesak keterlibatan serius pemerintah pusat saat menerima kunjungan kerja Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan RI, Prof. Bambang Wibawarta, M.A., pada Senin, 2 November 2026.
Kunjungan yang juga dihadiri Staf Khusus Menteri Bidang Media dan Komunikasi Publik Muhammad Asrian Mirza, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Ridwan, serta jajaran Kementerian Kebudayaan ini, berfokus pada konsolidasi Program Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) Bidang Kebudayaan TA 2026.
Meninjau Langsung Situs Bersejarah yang Terdampak
Bersama rombongan Kementerian Kebudayaan, Bupati yang didampingi Sekretaris Daerah Dr. Munawar Ibrahim serta jajaran pejabat Pemkab Pidie Jaya turun langsung meninjau sejumlah titik krusial, di antaranya:
- Masjid Madinah dan Kompleks Makam Kuno Dayah Kruet
- Dayah Tgk. Chik Pante Geulima
- Masjid Tgk. Di Pucok Krueng
Dari total 81 situs cagar budaya yang tersebar di delapan kecamatan, kondisi Masjid Madinah di Gampong Dayah Kruet (Kecamatan Meurah Dua) menjadi salah satu yang paling mengkhawatirkan. Masjid bersejarah yang diperkirakan dibangun sejak tahun 1623 oleh Teungku Japakeh pasca-perang melawan Portugis ini dipenuhi endapan lumpur hingga setinggi satu meter serta terjangan material kayu gelondongan.
"Kita tidak ingin bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga menghilangkan sejarah dan identitas daerah. Apa yang diwariskan para leluhur harus kita selamatkan bersama," tegas Bupati Sibral Malasyi.
Penanganan Mendesak dan Integrasi Pemulihan
Bupati menekankan bahwa penanganan situs-situs ini tidak boleh ditunda. Lumpur yang kian mengeras serta ancaman hujan susulan berisiko memperparah kerusakan permanen sekaligus mempersulit proses restorasi sesuai kaidah pelestarian cagar budaya.
Selain fokus pada warisan sejarah, Bupati juga menyuarakan persoalan mendesak lainnya kepada pemerintah pusat, seperti:
- Pemulihan lahan persawahan yang belum bisa ditanami kembali.
- Normalisasi 7 aliran sungai yang rusak.
- Mitigasi kerentanan infrastruktur terhadap ancaman hujan susulan.
Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya berharap Kementerian Kebudayaan dapat segera menindaklanjuti peninjauan ini melalui dukungan teknis, kajian ahli, pendampingan, hingga percepatan program rehabilitasi.
Pemkab Pidie Jaya berkomitmen untuk terus mengawal proses koordinasi dan pemulihan ini agar identitas peradaban Aceh di tanah Pidie Jaya tetap terjaga untuk generasi mendatang.[Riski]
Posting Komentar untuk "Menembus Lumpur Demi Sejarah: Bupati Pidie Jaya Desak Kementerian Kebudayaan Selamatkan 81 Situs Warisan Leluhur"