NALURINEWS.COM, Meureudu - Hujan deras yang mengguyur kawasan Pidie Jaya sejak beberapa hari terakhir kembali memicu banjir bandang yang melanda sejumlah desa di Kecamatan Meureudu, Meurah Dua, dan Ulim. Meski air bah merendam rumah dan merusak fasilitas umum, sebagian besar warga memilih tetap bertahan di kediaman mereka, meski logistik dan akses terbatas.
Kerusakan dan Arus Deras
Air mulai naik sejak Selasa, 25 November 2025 pagi, disusul arus deras yang membawa lumpur serta pepohonan tumbang. Ketinggian air di beberapa rumah tampak mencapai setinggi lutut orang dewasa. Selain merendam permukiman, akses jalan antar-desa sempat terputus total akibat tumpukan kayu dan endapan lumpur yang tebal, menghambat mobilitas warga dan tim bantuan. Kondisi listrik di beberapa titik juga padam akibat gardu terendam air.
Alasan Bertahan dan Kebutuhan Mendesak
Alasan utama warga memilih bertahan adalah kekhawatiran meninggalkan rumah dan barang berharga mereka tanpa penjagaan.
“Kami takut kalau ditinggal rumah makin rusak atau barang hanyut. Selama ini bertahan saja dulu, sambil tunggu bantuan,” ujar Ariati (55), seorang warga dari Blang Awe, Kecamatan Meureudu, yang memilih tetap tinggal bersama keluarganya.
Sementara itu, warga lain mulai merasakan krisis logistik mendesak. Selain sulitnya akses, mereka sangat membutuhkan makanan siap saji, air bersih, serta perlengkapan tidur.
Kondisi tersebut juga dialami oleh Armiya, warga Tijin, Kecamatan Ulim. Ia sempat bertahan di rumahnya, namun akhirnya terpaksa mengungsi. "Kami kekurangan air bersih, air minum. Kami sempat bertahan, tapi akhirnya harus mengungsi ke tempat keluarga," tuturnya, menggambarkan betapa mendesaknya kebutuhan dasar di lokasi bencana.
Upaya Penanganan Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah bersama BPBD Pidie Jaya telah menurunkan tim untuk mengevakuasi warga yang berada di titik rawan serta mendistribusikan bantuan darurat.
Namun, sulitnya medan, terutama akses yang tertutup material banjir, membuat proses penyaluran bantuan menjadi terhambat. Petugas juga terus memantau debit sungai yang masih berpotensi meningkat apabila hujan kembali turun.
Banjir bandang ini disebut-sebut sebagai salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Hingga kini, sebagian besar warga tetap bertahan di rumah masing-masing sambil berharap kondisi cepat membaik dan adanya penanganan yang lebih serius dari pemerintah agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang.[Riski]

Posting Komentar untuk "Banjir Bandang Melanda Pidie Jaya, Ribuan Warga Bertahan di Tengah Keterbatasan"