Tiga Bulan di Pengungsian, Korban Banjir Bandang Pidie Jaya Menjerit Kurang Fasilitas

Kondisi pengungsi di Gedung Tgk Cyiek Pante Geulima, Pidie Jaya.

NALURINEWS.COM
, Meureudu - Memasuki bulan ketiga pasca-bencana banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, nasib ratusan pengungsi di Gedung Tgk Syiek Pante Geulima kian memprihatinkan. Hingga Rabu, 4 Februari 2026, warga yang kehilangan tempat tinggal masih harus bertahan di tengah keterbatasan fasilitas dasar.

​Krisis air bersih dan buruknya sarana Mandi, Cuci, Kakus (MCK) menjadi keluhan utama. Asma (65), warga Gampong Beurawang, menceritakan perjuangannya setiap hari hanya untuk mendapatkan air. 

“Air bersih sangat sulit. Kami harus antre dan membawa jeriken sendiri. Untuk mandi pun kami harus ke musala karena di sini tidak ada MCK yang layak,” ungkapnya dengan raut wajah lelah.

​Keluhan serupa datang dari Reni, warga Meunasah Krueng Baroh. Menurutnya, bantuan yang datang kini mulai tidak menentu, sementara kondisi tenda pengungsian sudah tidak memadai. 

"Kalau hujan, air masuk ke dalam tenda. Kami sangat berharap pembangunan Hunian Sementara (Huntara) segera terealisasi," keluh Reni.

​Banjir bandang yang menerjang pada 26 November 2025 lalu tercatat merusak ratusan rumah di beberapa kecamatan. Namun, hingga awal Februari 2026, janji percepatan pemulihan dari pemerintah daerah seolah berjalan di tempat. Warga hanya bisa berharap agar birokrasi tidak memperlambat hak mereka untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak.[Riski]

Posting Komentar untuk "Tiga Bulan di Pengungsian, Korban Banjir Bandang Pidie Jaya Menjerit Kurang Fasilitas"