![]() |
| Petani di Gampomg Pohtroh, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya memperlihatkan tukus buruan yang merusak tanaman padi. |
NALURINEWS.COM, Meureudu - Di bawah langit Kemukiman Beurieweuh, Desa Pohroh, Kecamatan Meueudu, Kabupaten Pidie Jaya, wajah-wajah lesu para petani kini menjadi pemandangan sehari-hari. Sawah yang seharusnya menjadi tumpuan harapan dan lumbung rezeki, kini berubah menjadi medan pertempuran melawan "pasukan senyap" yang tak kunjung surut.
Serangan ini bukan sekadar gangguan kecil. Bagi warga setempat, ini adalah ancaman bagi keberlangsungan hidup di tengah kondisi ekonomi yang kian menghimpit.
Mimpi yang Digigiti di Tengah Malam
Serangan bermula sejak beberapa pekan lalu. Tikus-tikus tersebut tidak hanya merusak bulir padi yang mulai menguning, tetapi menghancurkan batang hingga patah.
Di pematang sawahnya, A. Wahab (70), seorang petani senior di Desa Pohroh, memandang nanar hamparan padinya yang mulai rusak. Di usia senjanya, ia harus menyaksikan jerih payahnya hancur digerogoti.
"Setiap malam tikus masuk ke sawah. Banyak batang padi patah dan rusak. Kalau tidak segera ditangani, kami takut hasil panen tahun ini hilang sama sekali," keluh Pak Wahab dengan nada getir.
Para petani tidak tinggal diam. Mereka telah mencoba berbagai cara, mulai dari memasang perangkap tradisional hingga merogoh kocek lebih dalam untuk membeli racun. Namun, populasi tikus yang meledak membuat upaya swadaya ini terasa sia-sia. Biaya tambahan ini justru menjadi beban baru bagi mereka yang sedang berjuang menyambung hidup.
Harapan pada Pemerintah
Kini, harapan para petani hanya tertumpu pada tangan dingin pemerintah daerah. Melalui dinas terkait, warga memohon bantuan nyata dari pemerintah seperti penanganan skala besar yang tidak bisa dilakukan petani sendiriaan, edukasi mengenai cara penanggulangan hama yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Di tengah situasi ekonomi yang sulit, menyelamatkan padi berarti menyelamatkan piring nasi di meja makan warga. Masyarakat Meureudu kini hanya bisa menunggu: apakah bantuan akan datang sebelum fajar menyapu habis sisa-sisa harapan di sawah mereka?.[Riski]

Posting Komentar untuk "Jeritan di Balik Padi yang Patah: Petani Meureudu Beradu Nasib dengan Hama Tikus"